Kronik Wanita Karir

Pada artikel kali ini, penulis akan berbagi sedikit informasi mengenai polemik wanita karir dengan segala baik buruk dampaknya berdasarkan pendapat pada umumnya dan hasil wawancara yang telah penulis lakukan.

Omas Ihromi menyatakan bahwa, wanita pekerja ialah mereka yang hasil karyanya akan mendapat imbalan uang. Sementara itu E. Sumaryono menyatakan bahwa wanita karier ialah sosok perempuan yang dengan kemampuan dan pendidikan yang dimiliki mampu mengoptimalkan peran serta dan keterlibatannya, dan mempunyai kemampuan merealisasikan teori-teori ilmunya dalam ranah praktis dengan baik.

Dalam era globalisasi ini keterlibatan perempuan sangat esensial. Hampir tidak terlihat lagi perbedaan antara laki-laki dengan perempuan. Keduanya memiliki hak, status, peranan, dan kesempatan untuk berkembang dan berkontribusi dalam struktur masyarakat modern. Banyak faktor yang mempengaruhi perubahan tersebut, diantaranya kemajuan IPTEK dan perkembangan budaya dalam masyarakat. Saat ini perempuan tidak lagi terkukung oleh lingkaran sempit itu.

Perempuan masa kini dengan berani medobrak dan menyuarakan eksistensinya, menunjukkan kemampuan, dan keinginan untuk mencari dan memperoleh membuat mereka dapat menghasilkan karya nyata sebagaimana yang dapat dilakukan oleh kaum laki-laki.

Disamping banyaknya pencapaian yang didapatkan, seorang wanita karir pastinya tak akan terlepas dari berbagai kronik yang mereka alami selayaknya drama. Perempuan tetap saja dipandang sebagai makhluk domestik yang siklus geraknya ada di sekitar sumur, dapur dan kasur. Sejauh apapun mereka melampaui siklus tersebut, tetap saja ia akan ditarik kembali kedunia yang telah dikonstruksikan untuknya. Seberapa banyak yang didapat ia tak akan pernah dianggap sebagai pencari nafkah.

Permasalahan nafkah barangkali tidak akan berarti banyak bagi perempuan apabila tidak digunakan untuk meniadakan hak aktualisasi dirinya sebagai manusia. Meskipun demikian realitas sosial tentang tuntutan ekonomi menentukan lain dari perilaku masyarakat  sekarang. Timbulnya perilaku baru yang berkaitan dengan dunia kerja dalam kehidupan perempuan. Pola umum untuk mengamati problematika wanita bekerja adalah dengan menganalisis pada interaksi wanita yang bekerja tersebut dengan lingkungannya. Baik lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat maupun lingkungan dimana ia bekerja.

Sementara itu berdasarkan hasil wawancara yang penulis lakukan bersama salah satu dosen Fakultas Ilmu Komunikasi di Universitas Garut, beliau menyatakan beberapa hal positif mengenai pengalamannya sebagai wanita karir.

Menurutnya, selama ia bekerja tidak ada diskriminasi gender dalam pengalamannya bekerja. Selain itu secara eksplisit tidak ada diskriminasi gender dalam hal penetapan jabatan kerja. Perbedaannya hanya terletak pada pola kerja. Menurut beliau staff wanita terikat pada solidaritasnya. Dosen tersebut juga menuturkan, motivasi awal menjadi wanita karir karena faktor kebutuhan, kemudian motivasi sekarangnya adalah tuntutan peran sosial, tingkat pendidikan dan tuntutan moral.

Sumber :
E. Sumaryono, Etika Profesi Hukum, Norma-Norma Bagi Penegak Hukum (Kanisius, 1995) hal: 32

Omas Ihromi, Wanita Bekerja dan Masalah-masalahnya, dalam Toety Hearty Nurhadi dan Aida Fitalaya S. Hubeis (editor), Dinamika Wanita Indonesia seri 01: Multidimensional, Pusat Pengembangan Sumberdaya Wanita, Jakarta, 1990, hlm: 38.

Hasil wawancara pada 08 Januari 2020.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

10 Elemen Jurnalisme menurut Bill Kovach dan Tom Rosenstiel