10 Elemen Jurnalisme menurut Bill Kovach dan Tom Rosenstiel

Salah satu materi yang dibahas dalam mata kuliah Kapita Selekta Jurnalistik yang diselenggarakan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Garut adalah mengenai 10 Elemen Jurnalisme. Sepuluh elemen jurnalisme merupakan panduan yang digunakan oleh para jurnalis dan wartawan dunia dalam menjalankan profesinya.

Sepuluh Elemen Jurnalisme disusun berdasarkan buku “9 Elemen Jurnalisme” dan “Blur” karya Bill Kovach & Tom Rosenstiel yang sangat dihormati di dunia jurnalisme. Inilah 10 (sepuluh) elemen jurnalisme yang wajib diketahui seorang jurnalis sebagai pedoman menjalankan profesinya :

1. Tugas utama praktisi jurnalisme adalah memberitakan kebenaran.

Kewajiban utama seorang jurnalis adalah pada kebenaran, bukan sekedar puas melaporkan fakta, karena fakta sering kali disodorkan ke depan jurnalis dengan agenda tertentu. Kewajiban jurnalis adalah mempertanyakan fakta itu. Kegigihan seorang jurnalis mencari kebenaran ditekankan untuk menghindari kekhawatiran ada pihak yang memanipulasi jurnalis dengan menyodorkan fakta. Fakta tidak datang ke jurnalis secara ‘innocent’.

Perlu disadari oleh semua pihak bahwa “kebenaran jurnalistik” bukanlah kebenaran hukum. Kebenaran jurnalistik adalah kebenaran pada saat fakta itu disampaikan ke hadapan jurnalis. Jurnalis terus menggali dan mengikuti perkembangan berita untuk melaporkan selengkap dan seakurat mungkin kepada khalayaknya. Ini proses menyajikan kebenaran kepada publik.

2. Loyalitas utama wartawan adalah pada masyarakat.

Esensi jurnalisme mewajibkan media menempatkan kepentingan publik/warga di atas semua kepentingan lain. Namun sesungguhnya media harus melayani beragam pemangku kepentingan, mulai dari pemiliknya, masyarakat/komunitas sekitar, pengiklan, pemerintah/regulator (terutama bagi media penyiaran), pemegang saham publik (untuk yang sudah tercatat di bursa saham).

Kesetiaan utama kepada warga bisa diartikan jurnalis harus memahami keinginan warga. Satu aspek dari industri, yakni pentingnya memahami keinginan pasar, dalam arti positif bisa ditujukan untuk semaksimal mungkin melayani kepentingan warga. Jadi, memenuhi ‘selera pasar’ itu bisa diartikan sebagai memahami siapa konsumen media kita. Permahaman bisnis telah menjadi bagian dari kompetensi yang perlu dimiliki oleh jurnalis di abad ke-21.

Kesetiaan kepada warga didasari atas kemampuan bersikap independen dalam melaksanakan kebijakan editorial peliputan. Jika jurnalis dan organisasi medianya berhasil menjalin hubungan (engagement) dengan warga, maka keuntungan bisnis dengan sendirinya akan datang. Keuntungan finansial sebuah organisasi media, biasanya mendukung independensi media atas pemangku kepentingan terutama pemilik saham.

3. Esensi jurnalisme adalah verifikasi

Esensi jurnalisme adalah verifikasi, memastikan bahwa data dan fakta yang digunakan sebagai dasar penulisan bukan fiksi, bukan khayalan, tetapi berdasarkan fakta dan pernyataan narasumber di lapangan.

Disiplin verifikasi menjadi kunci kualitas jurnalis dan karyanya. Pada akhirnya disiplin verifikasi adalah cara membedakan jurnalisme dengan gosip hiburan, propaganda, fiksi atau seni. Jurnalisme harus fokus menggali lebih dalam apa yang terjadi. Disiplin verifikasi itu sendiri sering dikatakan bersifat personal, sering disalahpahami dan menimbulkan kebingungan atas salah satu nilai penting dalam jurnalisme: obyektivitas.

Kovach dan Rosenstiel menjelaskan, ketika konsep obyektivitas muncul, itu tidak hanya mensyaratkan bahwa jurnalis harus bebas dari bias.  “Obyektivitas adalah keharusan jurnalis membangun metode pemeriksaan kebenaran atas informasi yang diperolehnya secara konsisten (a transparant approach to evidence)”.

Jika metode dilakukan dengan baik, maka bias personal maupun kultural tidak menafikan aspek penting, misalnya dalam hal akurasi. Dalam konsep orisinalnya, obyektif adalah transparansi metode yang digunakan, bukan si jurnalis. Kuncinya disiplin verifikasi, bukan tujuannya.

Di era digital, salah satu hal penting yang berubah adalah cara keja jurnalis dan ruang redaksi yang dituntut lebih transparan. Ada sejumlah prinsip disiplin verifikasi yang perlu diperhatikan dalam peliputan:
  • ·         Jangan menambah-nambahkan sesuatu yang tidak ada.
  • ·         Jangan mengecoh audiens.
  • ·         Bersikaplah transparan sedapat mungkin tentang motif dan metode Anda.
  • ·         Lebih mengandalkan pada liputan orisinal yang dilakukan sendiri.
  • ·         Bersikap rendah hati, tidak menganggap diri paling tahu.

4. Wartawan harus independen

Wartawan harus independen, artinya tak masalah untuk menulis apapun (baik/buruk) tentang seseorang sepanjang sesuai dengan temuan/fakta yang dimilikinya. Independensi harus dijunjung tinggi di atas identitas lain seorang wartawan.
Independensi tidak berarti netral. Sah saja berpihak, sepanjang dilandasi kesetiaan pada profesi, yakni kepentingan publik. Pada saat menentukan mana berita yang akan disiarkan dari ratusan berita yang masuk ke ruang redaksi, jurnalis sudah melakukan pemihakan, pemilahan. Ada yang diberitakan, ada yang tidak.

Pada saat menentukan siapa yang diwawancarai untuk sebuah berita, jurnalis memilih. Pemihakan didasari atas kriteria berita, penyajian berita dilakukan dengan memperhatikan Kode Etik Jurnalistik. Kuncinya lagi-lagi: transparansi, akurasi, verifikasi. Semua berita mendapatkan perlakuan yang sama.
Independensi bukan perkara gampang. Bukan cuma tekanan dari luar yang bisa mempengaruhi. Pengalaman dan latar belakang kehidupan jurnalis pun bisa mempengaruhi sudut pandang si jurnalis, mulai dari agama, gender, pendidikan, status sosial ekonomi. Jurnalis adalah manusia. Dalam situasi seperti ini penting untuk menjadikan kehormatan profesi dan etikanya sebagai pegangan dalam menghasilkan karya.

5. Jurnalis harus melayani sebagai pemantau independen terhadap kekuasaan

Jurnalis harus bertindak sebagai pemantau independen terhadap kekuasaan. Wartawan tak sekedar memantau pemerintahan, tetapi semua lembaga kuat di masyarakat. Lembaga-lembaga yang menamakan dirinyas sebagai lembaga publik atau bekerja untuk kepentingan publik.

Pers percaya dapat mengawasi dan mendorong para pemimpin agar mereka tidak melakukan hal-hal buruk, yaitu hal-hal yang tidak boleh mereka lakukan sebagai pejabat publik atau pihak yang menangani urusan publik. Jurnalis juga mengangkat suara pihak-pihak yang lemah, yang tak mampu bersuara sendiri.

Prinsip pemantauan ini sering disalahpahami, bahkan oleh kalangan jurnalis sendiri, dengan mengartikannya sebagai “mengganggu pihak yang menikmati kenyamanan.” Prinsip pemantauan juga terancam oleh praktik penerapan yang berlebihan, atau “pengawasan” yang lebih bertujuan untuk memuaskan hasrat audiens pada sensasi, ketimbang untuk benar-benar melayani kepentingan umum.

6. Jurnalisme sebagai forum publik

Jurnalisme harus menyediakan forum bagi kritik maupun komentar dari publik. Percakapan di media sosial kini menjadi forum publik bagi media. Aspek interaktifnya dimungkinkan oleh medium internet. Apapun media yang digunakan, jurnalisme haruslah berfungsi menciptakan forum di mana publik diingatkan pada masalah-masalah yang benar-benar penting, sehingga mendorong warga untuk membuat penilaian dan mengambil sikap.

Kovach dan Rosenstiel mengatakan jurnalisme harus menyediakan sebuah forum untuk kritik dan kompromi publik. Demokrasi pada akhirnya dibentuk atas kompromi. Forum ini dibangun berdasarkan prinsip-prinsip yang sama sebagaimana halnya dalam jurnalisme, yaitu: kejujuran, fakta, dan verifikasi. Forum yang tidak berlandaskan pada fakta akan gagal memberi informasi pada publik.

7. Jurnalisme harus memikat dan relevan

Jurnalisme harus berupaya membuat hal yang penting itu menarik dan relevan. Tugas jurnalis adalah menemukan cara untuk membuat hal-hal yang penting menjadi menarik dan relevan untuk dibaca, didengar atau ditonton. Untuk setiap naskah berita, jurnalis harus menemukan campuran yang tepat antara yang serius dan yang kurang-serius, dalam pemberitaan hari mana pun.

Jurnalis harus memiliki tujuan yang jelas, yaitu menyediakan informasi yang dibutuhkan orang untuk memahami dunia, dan membuatnya bermakna, relevan, dan memikat. Dalam hal ini, terkadang ada godaan ke arah infotainment dan sensasionalisme.

8. Jurnalis harus menjaga agar beritanya komprehensif dan proporsional

Di era digital, jurnalis diharapkan menjadi ‘trusted guide”, yang membantu publik memilah mana informasi yang benar diantara jutaan informasi yang bersliweran di dunia maya. Banyak media mencari jalan pintas dengan menggunakan percakapan di media sosial dan menjadikannya bahan berita tanpa melakukan verifikasi.

Prinsip “Lebih Cepat, Lebih Baik” jadi anutan. Akurasi dan Keberimbangan dikesampingkan. Dewan Pers pada tanggal 3 Februari 2012 menerbitkan Pedoman Pemberitaan Media Siber bagi pengelola media siber. Pakar pers Atmakusumah Astraatmadja mengatakan, pedoman ini juga bermanfaat bagi publik yang memiliki akun media sosial.

Kovach dan Rosenstiel mengatakan jurnalisme itu seperti pembuatan peta modern. Ia menciptakan peta navigasi bagi warga untuk berlayar di dalam masyarakat. Maka jurnalis juga harus menjadikan berita yang dibuatnya proporsional dan komprehensif. Tidak ada cara lain untuk menyajikan berita yang proporsional dan komperehensif sesuai esensi jurnalisme, selain memenuhi semua kaidah dalam Etika Jurnalistik.

9. Jurnalis memiliki kewajiban untuk mengikuti hati nurani

Setiap jurnalis, dari redaksi hingga dewan direksi, harus memiliki persepsi yang sama atas tujuan dari sebuah organisasi media/pers. Dalam kaitan itu, pemilik media juga dituntut untuk melakukan hal yang sama. Meyakinkan direksi dan pemilik atas tujuan mulia karya jurnalistik seringkali tidak mudah, tetapi harus diupayakan terus-menerus.

Dalam perkembangan berikutnya, Bill Kovach dan Tom Rosenstiel menambahkan elemen ke-10. Yaitu:

10. Hak dan kewajiban warga terhadap hal-hal yang berkaitan dengan berita

Elemen terbaru ini muncul dengan  perkembangan teknologi informasi, khususnya internet. Warga bukan lagi sekadar konsumen pasif dari media, tetapi mereka juga menciptakan media sendiri. Ini terlihat dari munculnya blog, jurnalisme online, jurnalisme warga (citizen journalism), jurnalisme komunitas (community journalism) dan media alternatif. Warga dapat menyumbangkan pemikiran, opini, berita, dan sebagainya, dan dengan demikian juga mendorong perkembangan jurnalisme.




Sumber :
https://jurusjadiwartawan.wordpress.com/2017/12/14/10-elemen-jurnalisme
https://rumahinspirasi.com/10-elemen-jurnalisme-menurut-bill-kovach-dan-tom-rosenstiel
https://www.academia.edu/5142169/Sembilan_Elemen_Jurnalisme_Plus_Elemen_ke-10_

Komentar